Hai…
Ini mungkin bisa jadi sharing bagi kita, tentang energi yang tumbuh bila paradigma kita positif. Sebaliknya, yang namanya gengsi, jabatan, dan segudang “tembok”lainnya sering tidak cukup bisa membantu kita keluar dari berbagai masalah, termasuk bagaimana kita bisa survive dari sisi ekonomi?

Dalam sebuah sesi konseling wirausaha, saya bertemu seorang ibu yang terlihat secara fisik berasal dari kalangan yang cukup berpendidikan. Beliau meminta masukan atas problem keluarganya terutama dalam masalah ekonomi keluarga. Dalam bayangan beliau, ada kemungkinan untuk membuka sebuah usaha. Sewaktu saya tanya usaha apa yang ingin dirintis? Dia menjawab bingung… pokoknya bisa untuk biaya sekolah anak saya, mas. Yah, buka ketering, rumah makan, atau lainnya lah. Lalu saya bertanya sudahkah punya modal? Beliau menjawab tidak punya kalau untuk membuka rumah makan dan sejenisnya. Lalu saya bertanya kira-kira hobinya apa? Masak, jawab beliau. Nah cocokkan sebenarnya dengan keinginan beliau membuka warung/rumah makan? Saya sering buntu mas, tidak tahu harus memulai dari mana dan apa? Saya udah tidak punya apa-apa untuk modal usaha (Nah bagi saya inilah saatnya merubah paradigma beliau. Saya lanjutkan pertanyaan saya, maaf ya bu, apakah ibu benar tidak punya modal atau sesuatu yang bisa dijadikan modal untuk merintis usaha? Ya mas, saya sudah tidak punya apa-apa lagi…kesini saya saya pinjam motor sodara.
Saya bertanya :Ibu tidurnya pake apa? kasur?tikar? spring bed? Jawab ibu itu: Spring bed, mas! OK…bisakah spring bed tersebut dijual, dan ibu mencoba tidur dengan tiker, hasil jual spring bed jadikan modal usaha? Beliau termenung….Lalu jualan apa mas? (nah ini juga paradigma lagi) Yah jualan yang sesuai dengan modal yang didapatkan dari menjual spring bed?
Nah ibu ini tidak pernah terpikirkan selama ini untuk tidur diatas tikar dan berjualan dengan modal terbatas yang hanya beberapa puluh ribu atau ratusan ribu rupiah. Karna selama ini saat beliau masih “jaya” ketemunya uang jutaan. Dan untuk membuka usaha butuh jutaan rupiah menurutnya
Bu… kira-kira jualan apa yang modalnya terbatas dan bisa dilakukan dari hobi yang ibu miliki? yah jualan “matengan” mas. Tapi saya belum punya bayangan, ujar beliau. Bu… bisa ndak buat gorengan? tempe atau tahu goreng/pisang goreng. Ya bisa dong mas, kan tinggal goreng. tapi kan sudah banyak yang jualan gorengan di jogja? (Nah sekarang kita belajar paradigma lagi)
Bu, kita bisa dan boleh berjualan sama dengan orang lain meski kita menjadi pemain/penjual baru, tetapi biasanya akan sulit bertahan bila kita tidak punya ciri khas. Nah sekarang kita cari ciri khas gorengan yang akan ibu jual. Kira-kira adakah bayangan?……belum mas……
Mari sekarang kita bebaskan pikiran kita untuk berpikir merdeka, kira-kita kalau kita jualan mendoan, mendoan apa ya yang bisa laris dibeli orang. Nah dari diskusi saya denga beliau muncul berbagai macam hal jual mendoan/tempe gorengan yang sudah ditaburi potongan cabe rawit kecil-kecil; buka warung gorengan dengan menyediakan sambel kecap gratis; jual gorengan tumpuk; jual gorengan kuah empek-empek.. dan masih banyak ide bermunculan
Dari sesi tersebut kami sepakati banhwa akan banyak ide dan hal-hal baru yang belum pernah kita bayangkan. Semua begitu mudah dan mengalir saat kita mau mmbebaskan diri kita dari “penjara” yang kita buat sendiri.
Dari sesi “mendoan paradigma” ini mari kita belajar untuk mau terus berubah dan keluar dari “penjara” paradigma yang kita buat sendiri.
mari kita racik paradigma positif kita dan segera goreng semua ide-ide kreatif agar bisa segera kita sajika menu-menu usaha dalam nampan kesuksesan..
salam perubahan
-RH-