Hai, ketemu lagi…

Oya sebelum kita banyak obrolin tentang modal, seperti janji saya pada tulisan sebelumnya, saya akan melanjutkan bahasan kita tentang paradigma.  Paradigma berpikir udah kita bahas, nah sekarang mari kita renungkan paradigma kedua yang sering energinya negatif dan jadi penghalang kita untuk mau dan sukses berwirausaha, yaitu PARADIGMA BERBICARA.

Mari kita lihat bukti bahwa paradigma berbicara sering berenergi negatif saat kita mau memulai sebuah usaha, dan ini juga sangat berkaitan dengan paradigma berpikir yang masih negatif.  Buktinya adalah, dalam berbagai pelatihan saat saya tanya siapa yang membawa modal saat ini diatas 100 juta, hampir semua atau kebanyakkan langsung menjawab TIDAK ADA/TIDAK PUNYA/TIDAK BAWA.  Kenapa bisa begitu ? Salah satunya karena pola pikir kita sudah negatif sebelumnya, dan karena kita tdiak terbiasa untuk berbicara yang optimis.  Kita buktikan bahwa saat ini kita memiliki modal yang tak ternilai, syaratnya kalau kita berfikir positif.

berdagang_tabloidjubi_wp

Saya biasanya bertanya lagi pada salah seorang peserta pelatihan. Maaf mas kalau telinga kirinya ada yang minta diganti dengan uang 100 juta boleh ndak? langsung dia menjawab tidak boleh donk.  Berarti 1 telinganya seharga 100 juta, dua telinga 200juta, saya lanjutkan pertanyaan bolehkah hidungnya diminta untuk koleksi orang kaya dihargai 1 milyar? hampir semua peserta pelatihan menjawab tidak boleh.  Telinga, hidung, tangan, jantung, dll adalah MODAL yang tak terhingga.  Saat membahas itu kita sadar bahwa semua itu MODAL YANG TAK TERHINGGA HARGANYA.  Tapi kenapa saat kita berfikir tentang usaha sering kali kita mengeluh tidak punya modal? KARENA SELAMA INI CARA BERPIKIR KITA TENTANG MODAL HANYA BERUPA UANG.  Padahal tubuh, cara berfikir, keyakinan, kesehatan adalah juga MODAL yang luar biasa.

Beberapa contoh sederhana lainnya sering tanpa kita sadari kata-kata/ucapan meluncur dari mulut kita energinya tidak positif.  Saya pernah beberapa puluh atau ratusan kali bertanya kepada beberapa orang yang saya temui: kenapa kok tidak buka usaha? Jawabannya: Wah mas, ini cuma hobi kok! Usaha!, wah sulit, ndak punya modal! Duh, apa bisa ya saya kan hanya lulusan SD! saya kan sudah tua! dan banyak jawaban lainnya yang akan kita dapatkan.  Nah itu baru energi bicara negatif dari diri sendiri.  Dapat juga akan kita temukan energi berbicara negatif tentang wirausaha dari sekitar kita.  Ini dibuktikan, banyak kita temukan pendapat masyarakat yang bilang bahwa usaha itu: butuh darah keturunan dari pengusaha, jadi kalo mbah-mbahnya, orangtuanya bukan pedagang atau pengusaha sukses, jangan berani sekali-kali deh jadi pengusaha. Atau sering kita temukan pendapat bahwa pengusaha itu tidak tetap penghasilannya, jadi tidak seperti jadi pegawai yang tiap bulan hasilnya jelas.  Juga seperti: ngapain usaha wong saingannya sudah banyak, nanti kamu malah rugi dan bangkrut lho.  Atau masih banya lagi pendapat masyarakat yang masih berstigma negatif memandang sebuah pekerjaan yang disebut: menjadi pengusaha (meski banyak juga lho masyarakat yang men-support dan berpendapat positif tentang usaha dan para pelakunya).

S aya ada contoh menarik nih. Suatu ketika saat banyaknya dana bantuan modal usaha pada masyarakat kecil, ada sebuah keluarga yang menerima dana bantuan tersebut. Mereka mantap saat menerima dana dan berencana untuk jualan bakso. Agar ngirit, gerobak baksonya mereka buat sendiri dari bahan-bahan yang ada, dan memanfaatkan yang bisa digunakan untuk jualan bakso. Hari pertama saat gerobak dibuat, ada tetangga yang lewat dan bertanya: lho..buat apa ya? jawab: Gerobak, untuk jualan bakso. Wah apa udah dipikir, modalnya berapa sih? cukup ndak? Mendapat pertanyaan tersebut keluarga ini sempet mikir juga. Hari kedua saat gerobak masih dibuat, lewat tetangga lain dan bertanya: mau jualan ya kang? Bakso atau mie ayam? jawab: Rencana jualan bakso. Weh, jualan bakso… apa pernah jualan sebelumnya? Nanti jangan-jangan rasanya ndak standar lho. Jual bakso itu gampang-gampang sulit. Keluarga ini makin berpikir apa kata orang. Hari ketiga saat gerobak udah mulai jadi, apa tetangga lain yang lewat dan mampir. Jual bakso ya? Apa udah dipikir bener, sekarang banyak saingannya lho.. liat tuh dimana-mana orang jualan bakso dari yang keliling sampai yang buka warung. Nanti malah rugi lho… Nah apa yang terjadi selanjutnya pada keluarga ini?

Kalau keluarga ini memiliki paradigma (pola/model) berpikir yang sejak awal sudah negatif, dan berkali-kali mendapatkan omongan yang negatif tentang apa yang sedang dilakukannya, apa yang mungkin terjadi? Jadikah mereka berjualan? Disinilah pentingnya memiliki paradigma positif dalam berpikir dan berbicara, karena gambaran-gambaran negatif dari pihak luar bisa kita pikir dan bicarakan dengan kepala dingin, dan diurai atau dipeta.

Kalau sejak awal keluarga ini sudah berpikir dan senantiasa mengembangkan komunikasi positif dalam diri mereka, mereka akan mampu untuk menghadapi atau menjawab pertanyaan siapapun. Bahkan saat banyak ungkapan negatif yang ditujukan pada mereka, kira-kira inilah jawaban mereka: Iya mas, ini kami lagi latihan jualan bakso. Doakan ya bisa laris.  Atau jawaban seperti ini: Matur nuwun mas masukannya.  Nah agar kami ndak rugi, siapkan panjenengan/anda menjadi pelanggan kami nantinya.  Atau: Iya betul mas, kami ndak ada darah pengusaha, tapi kami yakin kok kalo kami berusaha pasti ada jalan, nah inilah energi positif itu. Mungkin yang akan terjadi adalah: orang-orang yang pesimis saat melihat keluarga ini mau jualan, akhirnya yang akan menjadi pelanggan pertama bakso keluarga ini.

Dan dalam ilmu usaha berbicara menjadi representasi marketing, dimana ada aspek promosi di dalamnya. Meski produk kita bagus, tetapi paradigma berbicara/komunikasi kita masih negatif ya yang muncul bisa seperti contoh ini:

saat ada seseorang hobbi menjahit dan hasil jahitannya bagus, ada orang tertarik dan mau menjahitkan baju kepadanya, namun saat ditanya biskan menjahitkan beberapa potong baju, jawabannya ..wah.bu ini hanya hobi dan untuk isi waktu luang saja. Kalau jawabannya seperti itu, kecil kemungkinan calon konsumennya jadi order, karena udah tidak yakin dulu apakah bajunya akan jadi sesuai keinginannya.

Dan bicara yang positif bisa dilatih dimulai dari cara berfikir yang senantiasa positif, dan terus menjadi kebiasaan.Yuk mari mulai sekarang, dalam kondisi/keadaan apapun, kita mulai belajar berpikir positif dan belajar berbicara positif.  Karena begitu banyak peluang dan hal positif di depan yang bisa kita raih.

salam perubahan

-RH-

Leave a Reply